Panduan Mencegah Sibling Rivalry Anak dalam Keluarga Santri Liqaurrahmah
Menjaga keharmonisan dan keadilan perlakuan antaranak dalam keluarga menjadi pilar penting yang selalu ditekankan oleh pengasuh pondok. Sejalan dengan edukasi mengenai burnout pengasuhan wali santri, orang tua dibekali wawasan teknis untuk mencegah perselisihan antarsaudara atau sibling rivalry. Pemahaman parenting ini sangat krusial agar hubungan antara anak yang sedang menuntut ilmu di pesantren dan saudara di rumah tetap terjalin erat.
Fenomena sibling rivalry sering kali muncul akibat adanya persepsi kecemburuan atau rasa dibeda-bedakan dalam hal perhatian serta kasih sayang orang tua. Untuk mencegah hal tersebut, orang tua diimbau tidak membandingkan prestasi akademik maupun hafalan antara anak santri dan saudaranya. Setiap anak perlu dihargai sebagai individu yang unik dengan kelebihan, minat, serta kecepatan berkembang masing-masing tanpa ada perlakuan pilih kasih.
Penting bagi orang tua untuk menyisihkan waktu berkualitas secara individual bersama setiap anak secara bergantian tanpa gangguan. Saat santri pulang berlibur dari pesantren, komunikasi terbuka tanpa prasangka menjadi kunci untuk mengurai potensi sibling rivalry sejak dini. Orang tua diajak mendengarkan keluh kesah anak dengan penuh empati sehingga tidak ada perasaan dianaktirikan yang terpendam di dalam hati.
Mengajarkan prinsip berbagi, saling menghormati, dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas rumah tangga juga efektif meredakan persaingan saudara. Ketika terjadi perselisihan kecil, orang tua disarankan berperan sebagai fasilitator yang netral tanpa langsung menyalahkan salah satu pihak secara sepihak. Pendekatan adil ini melatih anak-anak untuk menyelesaikan konflik mereka secara dewasa dan damai.
Keterlibatan orang tua dalam seminar parenting islami yang diadakan pesantren membantu memperluas wawasan pengasuhan berbasis kasih sayang. Lingkungan keluarga yang hangat dan penuh rasa saling menghargai terbukti menjadi benteng emosional yang kuat bagi perkembangan mental anak. Ketenangan emosi di rumah mendukung fokus santri saat kembali menuntut ilmu di lingkungan pondok.
Edukasi pola asuh yang berkelanjutan menciptakan sinergi yang utuh antara pendidikan di pesantren dan pengasuhan mandiri di rumah. Hubungan persaudaraan yang harmonis menjadi modal dasar terbentuknya kepribadian santri yang penyayang dan empati terhadap sesama. Keluarga besar Ponpes Liqaurrahmah tumbuh menjadi komunitas yang saling mendukung dalam kebaikan.


