Ponpes Liqaur Rahmah

Loading

Arkeologi Islam Aceh: Santri Babul Ulum Menguak Situs Sejarah Terlupakan

Arkeologi Islam Aceh: Santri Babul Ulum Menguak Situs Sejarah Terlupakan

Aceh, yang dikenal sebagai Serambi Mekkah, menyimpan ribuan rahasia sejarah yang masih terkubur di bawah tanah maupun di balik rimbunnya hutan tropis. Memasuki tahun 2026, sebuah inisiatif luar biasa muncul dari Dayah Babul Ulum, di mana para santrinya tidak hanya mempelajari teks-teks fiqih, tetapi juga terjun langsung ke lapangan dalam proyek Arkeologi Islam Aceh. Gerakan ini bertujuan untuk mendata kembali, membersihkan, dan mengkaji situs-situs sejarah berupa nisan-nisan kuno, fondasi masjid purba, serta artefak perdagangan masa kesultanan yang selama ini terlupakan oleh arus modernisasi dan minimnya dokumentasi resmi.

Keterlibatan santri dalam dunia arkeologi memberikan warna baru bagi disiplin ilmu sejarah di Indonesia. Para santri memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki peneliti umum, yaitu kemampuan membaca aksara Arab Melayu (Jawi) dan memahami silsilah keilmuan para ulama masa lalu yang tertulis pada batu nisan. Di berbagai wilayah pesisir Aceh, tim dari Babul Ulum berhasil menguak situs sejarah yang sebelumnya hanya dianggap sebagai gundukan batu biasa oleh warga setempat. Dengan teliti, mereka melakukan ekskavasi ringan dan pembersihan nisan menggunakan teknik yang aman agar tidak merusak ukiran kaligrafi yang mengandung informasi mengenai nama tokoh, tahun wafat, hingga pengaruh mazhab yang berkembang pada masa itu.

Penemuan-penemuan ini sangat krusial untuk melengkapi kepingan teka-teki mengenai jalur penyebaran Islam di Nusantara pada abad ke-13 hingga ke-17. Melalui Arkeologi Islam, para santri menemukan bukti-bukti hubungan diplomatik dan perdagangan antara Kerajaan Aceh dengan Kesultanan Turki Utsmani serta kekaisaran di India. Banyak nisan yang ditemukan memiliki gaya ukiran yang menyerupai seni arsitektur luar negeri, namun tetap mengusung identitas lokal yang kuat. Informasi ini kemudian didigitalisasi oleh para santri menjadi database daring yang dapat diakses oleh peneliti sejarah dari seluruh dunia, menjadikan kekayaan sejarah Aceh sebagai milik publik global yang transparan.

Selain aspek ilmiah, kegiatan ini juga berfungsi sebagai sarana pendidikan karakter bagi santri. Dengan menyentuh langsung benda-benda peninggalan masa lalu, santri merasakan koneksi emosional dengan para leluhur mereka yang telah berjasa membangun peradaban Islam di tanah rencong. Pengetahuan yang didapat dari lapangan ini kemudian disinkronkan dengan kitab-kitab sejarah (Tarikh) yang mereka pelajari di dayah.