Ponpes Liqaur Rahmah

Loading

Liqaurrahmah Gelar Simposium Adab: Etika Santri di Dunia Maya

Liqaurrahmah Gelar Simposium Adab: Etika Santri di Dunia Maya

Dunia digital yang berkembang pesat saat ini telah menyentuh seluruh lapisan masyarakat, tidak terkecuali kalangan pesantren. Sebagai institusi pendidikan Islam tradisional yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesantunan, pesantren menghadapi tantangan besar dalam menjaga marwah santri di ruang publik digital. Merespons fenomena tersebut, Liqaurrahmah mengambil langkah strategis dengan gelar sebuah acara penting bertajuk Simposium Adab. Fokus utama dari pertemuan ini adalah membahas mengenai bagaimana penerapan etika santri di dunia maya agar tetap selaras dengan tuntunan syariat dan akhlakul karimah.

Penyelenggaraan simposium ini dilatarbelakangi oleh keresahan akan semakin kaburnya batasan antara ruang privat dan publik di media sosial. Santri, yang secara tradisional dikenal dengan sikap tawadhu dan hormat, kini dituntut untuk mampu mempraktikkan nilai tersebut dalam bentuk interaksi digital. Dalam sesi pembukaan simposium, ditekankan bahwa etika santri bukan hanya berlaku saat bertatap muka dengan guru di kelas atau di asrama, melainkan juga saat jempol mereka menari di atas layar ponsel. Hal ini menjadi krusial karena setiap unggahan, komentar, dan interaksi digital merupakan cerminan dari identitas diri serta lembaga tempat mereka menimba ilmu.

Salah satu poin mendalam yang dibahas dalam acara ini adalah bagaimana memindahkan konsep “adab sebelum ilmu” ke dalam ekosistem digital. Liqaurrahmah menekankan bahwa kecerdasan teknologi harus dibarengi dengan kematangan spiritual. Seorang santri diharapkan tidak hanya pandai mengoperasikan gawai, tetapi juga bijak dalam memilah konten. Melalui Simposium Adab ini, para peserta diajak untuk memahami bahwa jari-jari mereka adalah saksi yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Oleh karena itu, prinsip tabayyun atau verifikasi informasi sebelum menyebarkannya menjadi materi inti yang dikupas tuntas oleh para narasumber.

Lebih lanjut, fenomena viralitas yang sering kali mengabaikan kesantunan juga menjadi sorotan. Banyak pengguna internet terjebak dalam arus tren demi mendapatkan popularitas instan, terkadang dengan cara yang kurang pantas. Dalam konteks ini, simposium memberikan panduan konkret mengenai batasan-batasan pergaulan digital. Etika santri di dunia maya mencakup cara berkomunikasi yang santun kepada yang lebih tua, menghindari perdebatan yang sia-sia, serta tidak menyebarkan aib orang lain. Dengan menjaga adab, santri diharapkan mampu menjadi penyejuk di tengah panasnya atmosfer kompetisi digital yang sering kali memicu perpecahan.