Sejarah “Lomba Baca Kitab” Liqaurrahmah: Dari Tradisi Lokal ke Nasional
Tradisi keilmuan Islam di nusantara memiliki akar yang sangat kuat dalam budaya literasi kitab kuning. Di tengah arus modernisasi yang begitu deras, upaya untuk melestarikan khazanah intelektual ini sering kali membutuhkan kemasan yang menarik namun tetap substansial. Menelusuri Sejarah Lomba Baca Kitab sebuah kompetisi bergengsi yang lahir dari sebuah desa terpencil memberikan kita pelajaran berharga tentang bagaimana sebuah nilai lokal dapat tumbuh menjadi fenomena yang diakui secara luas.
Kegiatan Lomba Baca Kitab yang kini menjadi agenda rutin tahunan, pada mulanya hanyalah sebuah acara sederhana di lingkungan internal. Para pendiri di Liqaurrahmah merasa perlu adanya sebuah wadah untuk menguji mentalitas dan pemahaman para santri dalam membaca teks-teks klasik tanpa harakat. Pada masa awal berdirinya, peserta lomba hanya berjumlah belasan orang dari santri senior. Suasananya pun jauh dari kemewahan; hanya dilakukan di serambi masjid dengan penerangan seadanya, namun penuh dengan semangat tafaqquh fidu din.
Seiring berjalannya waktu, gaung dari kompetisi ini mulai terdengar ke pesantren-pesantren tetangga. Banyak kyai yang tertarik untuk mengirimkan santri terbaik mereka guna mengadu kemampuan intelektual dalam memahami logika hukum Islam dan tata bahasa Arab. Transformasi dari skala lokal ke tingkat regional terjadi secara organik karena adanya rasa saling menghargai antar lembaga pendidikan. Di Liqaurrahmah, setiap pemenang tidak hanya diberi hadiah materi, tetapi juga pengakuan sosial yang tinggi sebagai penjaga tradisi keilmuan Islam yang murni.
Memasuki dekade kedua, dorongan untuk membawa acara ini ke ranah Nasional mulai muncul. Hal ini dipicu oleh kebutuhan akan adanya standar penilaian yang objektif dalam kemampuan membaca kitab kuning di seluruh Indonesia. Dengan menggandeng berbagai instansi pendidikan dan tokoh ulama berpengaruh, ajang ini berubah menjadi festival keilmuan yang megah. Kini, peserta yang hadir bukan lagi hanya dari lingkup kabupaten, melainkan dari penjuru nusantara, mulai dari Aceh hingga Papua, yang semuanya memiliki satu tujuan: mengasah kecerdasan melalui teks klasik.


