Liqaurrahmah: Perang Batin Santri Saat Rindu Orang Tua
Kehidupan di dalam asrama pesantren sering kali terlihat penuh dengan keceriaan dan kebersamaan, namun di balik itu semua, terdapat sebuah perjuangan emosional yang sangat sunyi. Di Pesantren Liqaurrahmah, terdapat sebuah istilah yang sangat akrab di telinga para pengasuh, yaitu perang batin yang dialami oleh para santri baru maupun santri yang sudah bertahun-tahun menetap. Konflik internal ini biasanya memuncak pada momen-momen tertentu, khususnya ketika muncul rasa rindu orang tua yang begitu hebat. Sebagai lembaga yang menekankan pada kemandirian dan kekuatan mental, Liqaurrahmah menjadi saksi bisu bagaimana seorang anak manusia belajar mendewasakan diri melalui kerinduan yang mendalam.
Bagi seorang santri saat berada jauh dari rumah, rumah bukan lagi sekadar tempat tinggal, melainkan simbol kenyamanan dan kasih sayang yang tidak tergantikan. Di Liqaurrahmah, rasa rindu ini sering kali datang tanpa diundang, terutama saat malam mulai larut atau setelah menerima kabar dari kampung halaman. Terjadilah perang batin antara keinginan untuk pulang memeluk ayah dan ibu, dengan tekad untuk tetap tinggal demi menyelesaikan amanah menuntut ilmu. Rasa rindu orang tua ini bisa menjadi beban yang sangat berat, namun di sisi lain, ia juga menjadi bahan bakar yang luar biasa untuk membuktikan bahwa pengorbanan mereka meninggalkan rumah tidak akan sia-sia.
Para Kyai di Liqaurrahmah memahami betul dinamika psikologis ini. Mereka tidak melarang santri untuk bersedih, karena sedih adalah tanda kemanusiaan. Namun, mereka mengajarkan cara santri mengelola perang batin tersebut agar tidak berujung pada keputusasaan. Rasa rindu orang tua diarahkan menjadi energi dalam doa. Setiap kali rasa kangen itu muncul, santri diajarkan untuk segera mengambil air wudhu dan mengirimkan hadiah Al-Fatihah atau doa-doa khusus untuk orang tua mereka di kejauhan. Dengan cara ini, jarak yang ribuan kilometer jauhnya seolah terkoneksi melalui jalur spiritual, memberikan ketenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata namun sangat nyata dirasakan.


